Loader
 

Tiga Melon Unggul Asal Yogya

sahabatpetani.com – Kulit kuning keemasan dilengkapi dengan jaring (net). Bobot rata-rata 2,5 kg per buah. Daging buah hijau dengan tingkat kemanisan 13° briks. Itulah tiga keunggulan tacapa gold, melon keluaran Universtas Gajahmada, Yogyakarta. Dengan keunggulan itu, diyakini melon itu bakal berprospek bagus dan disukai oleh konsumen. Menurut Barno, pekebun di Kecamatan Ngombol, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, salah satu ciri melon unggul berkualitas prima memiliki net penuh. Warna kuning keemasan pada kulit tacapa gold  muncul sejak buah berumur sekitar 1 bulan. Bersamaan dengan itu, net atau corak jaring pada kulit buah juga muncul. Tacapa gold adalah varian melon baru keluaran Tim Gama Melon dari Universitas Gadjah Mada yang diketuai Dr. Budi Setiadi Daryono M.Agr.Sc.

Pengalaman berkebun melon selama bertahun-tahun mengasah insting mengenali melon unggulan.Budi Setiadi menjelaskan tacapa gold merupakan hasil dari pengembangan melon kultivar tacapa green black dan tacapa silver yang sudah lebih dahulu diproduksi dan bibitnya dirilis pada awal 2015. Budi dan rekan merakit tacapa gold sejak 2012—2014 sebagai varian dengan berbagai keistimewaan. Salah satunya tahan terhadap serangan cendawan tepung atau powdery mildew. “Itulah musabab memilih tacapa meminimalkan penggunaan pestisida selama proses penanaman dan memperkecil kemungkinan adanya residu pestisida dalam buah,” kata Budi.

Selain itu tacapa gold matang secara alami. Petani melon kerap menggunakan ethrel untuk mempercepat pematangan buah. Menurut peneliti melon dari Balai Penelitian Tanaman Buah, Solok, Ir. Prasetyo Budi Wibowo, bahan kimia sintetis itu sejatinya adalah etilen yang pada kondisi normal berbentuk gas (C2H4) dengan struktur kimia yang sangat sederhana. Dalam proses alami, etilen dihasilkan pada proses respirasi buah, daun, dan jaringan lain di dalam tanaman. Hormon itu dapat mempercepat pemasakan buah. Namun, hormon itu jumlahnya terbatas dan hanya muncul saat tanaman akan berbuah. Oleh karena itu kemudian dikembangkan senyawa kimia sintetis yang setiap saat dapat digunakan.

Namun menurut Budi S. Daryono penggunaan ethrel memiliki kelemahan. “Buah harus segera dipetik dalam waktu 3—4 hari sehingga mengurangi masa simpan. Pada akhirnya dapat mengecewakan pembeli karena terkecoh oleh warna menarik, tetapi rasa tidak manis karena kurang umur atau kurang matang,” ujarnya. Dekan Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta itu, menambahkan, sebuah penelitian di Jepang menyatakan bahwa akumulasi residu ethrel berbahaya bagi kesehatan manusia. Senyawa kimia itu memicu Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) pada anak, berupa gangguan sistem saraf dan melemahkan sistem kekebalan tubuh.

Menurut Budi tanpa penggunaan ethrel, melon memiliki daya simpan lama dan daging buah berwarna lebih menarik saat matang. Tacapa gold tidak perlu ethrel untuk mematangkan buah dan dapat disimpan hingga 30 hari. Itu sangat membantu dalam distribusi ke berbagai daerah saat nanti sudah dirilis ke pasar bebas. Melon itu juga memiliki daya adaptasi tinggi. Sebelum diperkenalkan ke masyatakat luas, tacapa gold sudah diuji di lahan sawah di Blitar, Jawa Timur, dan lahan berpasir di pesisir Purworejo, Jawa Tengah.

Karena keunggulan itu Tim Gama Melon bekerja sama dengan kelompok tani di Kecamatan Ngombol menanam tacapa sejak April 2016. Meski ditanam di tanah berpasir dengan kondisi angin kencang serta cuaca tak menentu, tetapi tacapa tetap mampu panen. Itulah yang membuat petani Ngombol tertarik membudidayakan tacapa lebih luas lagi. Menurut Barno budidaya melon tacapa gold lebih mudah daripada jenis lain. Ia jarang mengeluarkan biaya tambahan untuk pembelian pestisida karena melon rakitan UGM itu relatif tahan terhadap serangan kutu kebul. Semula Barni menanam seluas setengah hektare, kini mencapai 2 hektare. Ia menanam secara semiorganik menggunakan banyak pupuk organik pada awal pertumbuhan. Untuk lahan seluas 0,5 hektare Barno membenamkan 1,5 kuintal pupuk organik.. Jika menanam di lahan sawah, kebutuhan pupuk organik setengahnya saja.

Tingkat keberhasilan panen tacapa gold rata-rata 80%. Masa panen 70 hari setelah tanam untuk mendapatkan kematangan buah optimal. “Citarasa manisnya benar-benar sudah keluar dengan stabil,” ujar lelaki berusia 50 tahun itu. Sekali panen ia dapat meraup 38 ton buah segar dari 12.800 tanaman pada lahan 2 hektare.

Selain tacapa gold, Tim Gama Melon juga tengah mengembangkan melon berpenampilan unik berjuluk melonia dan gama melon parfum. Budi mengatakan, melonia adalah generasi turunan dari melon berbentuk lonjong yaitu melona. Warna buah kuning cerah keemasan. Melonia termasuk jenis tidak berjaring atau tanpa net. Citarasa melon lonjong itu manis dengan kadar kemanisan 12—16° briks. Bobot rata-ratanya 1,5 kg. Keistimewaannya adalah tahan virus tobacco serta dapat ditanam di dataran rendah sampai sedang hingga ketinggian 650 m di atas permukaan laut. Namun, melonia belum didaftarkan ke Kementerian Pertanian RI karena masih dalam proses penyempurnaan kestabilan produk buah.

Melon terakhir ialah gama melon parfum. Varietas ini merupakan kultivar melon baru yang berhasil dikembangkan Fakultas Biologi UGM. Penelitian kultivar melon baru ini berlangsung sejak 2011 hingga 2014. Sosok buah relatif kecil dengan bobot rata-rata 200—350 gram. Melon itu istimewa lantaran memiliki ornamen kulit buah yang unik, menyerupai corak batik dan menghasilkan aroma harum. Gama melon parfum juga mengandung flavonoid dan terpenoid yang tinggi.(SP)

About the Author /

sahabatpetanindo@gmail.com

Post a Comment