Loader
 

Tinggi Permintaan Mangga Garifta

sahabatpetani.com – Nun di Situbondo, Jawa Timur, para pekebun yang tergabung dalam Kelompok Tani Makmur Jaya I dan Kelompok Tani Makmur Jaya II justru menyambut baik bantuan bibit garifta. Setidaknya terdapat 200 pohon garifta berbuah dari sekitar 5.000 bibit yang ditanam pekebun anggota. Menurut Ketua Kelompok Tani Makmur Jaya I, Novem Sujariyanto, dan Kelompok Tani Makmur Jaya II, Bunawi, pada November 2017 mereka memanen sekitar 1 ton garifta dari total 200 pohon.

Hasil panen dari kebun kedua kelompok tani itu ludes pada acara pameran di Malang dan Situbondo, Jawa Timur, pada November 2017. Mereka menjual garifta dengan harga Rp15.000 per kg atau total omzet Rp15 juta. Sofi kewalahan memenuhi permintaan beberapa toko buah modern di Jakarta. Mereka menghendaki buah berbobot 250—300 g per buah dan berpenampilan mulus tanpa cacat. “Berapa pun garifta kami ambil,” kata Sofi menirukan ucapan salah seorang staf toko buah itu. Sayangnya produksi garifta terbatas sehingga pasokan belum terpenuhi. Hal itu sejatinya menjadi peluang bagi pekebun untuk menanam garifta. Permintaan garifta tidak hanya dari Jakarta.

I Ketut Kari pun tak sanggup memenuhi permintaan 7 ton garifta per pekan dari toko buah di Makassar, Sulawesi Selatan. Ketut membudidayakan tanaman yang masuk ke Tiongkok pada pertengahan abad ke-7 itu pada 2014. Ia kepincut garifta setelah membaca Majalah Trubus dan langsung memesan 100 bibit ke KP Cukurgondang. Semestinya ia menuai 5 ton garifta pada 2016. Sayang, ketika itu banyak buah busuk akibat terserang lalat buah. Ia hanya mampu menjual 37 kg garifta dengan harga Rp25.000 per kg.

Saat itu Ketut tidak terlalu fokus merawat mangga karena lebih mengutamakan kebun durian. Kini ia bertekad lebih serius memproduksi garifta pada 2018. Respons masyarakat di Sulawesi Tengah, bagus,jelas warga Desa Ogorandu, Kecamatan Bolano Lambunu, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, itu. Menurut Ketut, gairah mengebunkan garifta juga terlihat dari hasil penjualan bibit yang ia produksi sejak 2016. Ia menjual rata-rata 400—500 bibit tinggi 50—60 cm per bulan dengan harga Rp25.000/bibit.

Dengan harga jual itu ia memperoleh omzet Rp10 juta—Rp12,5 juta per bulan.Apa yang menyebabkan konsumen tertarik membeli garifta? Kepala bagian kendali mutu Toko Buah Hokky di Surabaya, Jawa Timur, Haryanto, mengatakan, “Garifta sangat menarik, bikin konsumen penasaran karena berwarna atraktif dan beraroma harum,” kata Haryanto. Hoky belum menjual garifta. Namun Haryanto yakin respons masyarakat bagus karena penampilan garifta bagus dan cita rasanya manis kombinasi masamnya yang segar. Haryanto mempersilakan jika ada pekebun yang menawarkan garifta berkualitas bagus. Syaratnya buah matang pohon dan warnanya merah.

Dosen Program Studi Agribisnis, Departemen Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran, Sumedang, Jawa Barat, Dr. Iwan Setiawan, S.P., M.Si., mengatakan kehadiran mangga warna-warni seperti garifta adalah sebuah terobosan. Selama ini konsumen dimanjakan dengan pasokan mangga berkulit hijau. Begitu melihat garifta berwarna merah, konsumen langsung tertarik untuk mencoba.

Iwan menambahkan garifta masih bisa diterima pasar meski berasa ada sedikit masam. Toh selera konsumen pun beragam. Apalagi garifta dicanangkan sebagai komoditas ekspor. Banyak konsumen di mancanegara seperti negara-negara di Benua Eropa dan Amerika Serikat yang menghendaki buah bercita rasa manis dan agak masam. “Pasar garifta prospektif,” kata Iwan. Namun, syaratnya warna kulit mangga mesti merata dan berukuran seragam agar bisa diterima pasar internasional.

Garifta bisa meniru jejak gedong gincu yang sohor di mancanegara sebagai mangga eksotis berwarna merah dari Indonesia. Pekebun gedong gincu di Kecamatan Sliyeg, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Erwin Wiguna, mengatakan prospek gedung gincu masih bagus. Hingga saat ini Erwin memasok lebih dari 7 ton gedong gincu per tahun dari kebun 2 hektare. Bagaimana peluang jenis mangga lain yang juga berpenampilan seronok seperti garifta? Menurut Asisten Manajer Operasional PT Laris Manis Utama, Vendi Tri Suseno, konsumen bakal menyukai mangga berpenampilan menarik seperti merah. Syaratnya buah tanaman kerabat kemang Mangifera kemanga itu mesti bercita rasa manis, tidak berserat, dan berukuran maksimal 600 g/buah. Prediksi Vendi itu seperti dialami H. Urip. Pekebun mangga asal Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, itu terpaksa menolak permintaan 2 ton agrimania nunuk per pekan dari salah satu pasar swalayan di Jakarta.

Agrimania nunuk adalah mangga hasil seleksi Urip yang juga berkulit atraktif, yakni kombinasi merah dan hijau.Hasil panen para pekebun selalu habis diserbu konsumen yang memesan lewat media sosial. Padahal, Urip menjual buah agrimania dengan harga tergolong premium, yakni Rp50.000 per kg. Mangga menor lain yang lebih dulu dikembangkan pekebun, irwin yang mulai populer sekitar 10 tahun silam.(SP)

About the Author /

sahabatpetanindo@gmail.com

Post a Comment